Rabu, 12 Maret 2014

Kisah Polisi dan Si Pandir

Suatu hari di sebuah Polsek antah berantah, dimana lokasi polsek ini berada di daerah terpencil yang mana masyarakatnya masih menjunjung tinggi adat serta kearifan lokal.

Datang seorang petugas kantor pos melapor kepada polisi yang sedang bertugas.

"Selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang brigadir polisi dengan ramah.
"Maaf pak, saya hendak melapor dan minta bantuan untuk mengembalikan sebuah surat yang dikirim pak Pandir dari kampung awan" jawab sang petugas pos.
"Masa mengembalikan surat saja harus minta bantuan polisi?" tanya sang brigadir.
"Masalahnya pak, surat pak Pandir ini ditujukan kepada Tuhan. Terus saya harus mengirim kemana? makanya saya kembalikan kepada pak Pandir, namun pak Pandir malah marah-marah dan mengatakan bahwa saya tidak profesional kerja sebagai tukang pos" curhat sang petugas pos.
"Ohh begitu, Insya Alloh kami akan coba membantu. Maaf boleh kami lihat suratnya?" pinta sang brigadir.

Petugas pos memberikan surat dari pak Fulan kepada polisi, tertulis besar pada Amplop surat tersebut Kepada : Tuhan Yang Maha Esa, Pengirim : Pandir kampung awan. Petugas polisi membuka amplop dan membaca isi surat dari Pandir. 

Kepada : Tuhan Yang Maha Esa

Ya Tuhan, saya sedang ada masalah. Saya sedang butuh uang tiga puluh ribu rupiah untuk membeli bibit jagung yang akan saya tanam di pekarangan saya. Tolonglah Tuhan, berikan saya uang.

TTD. Pandir


Setelah membaca surat Pak Pandir, sang polisi berkata
"Baiklah, kami akan bantu kembalikan surat dari pak Pandir ini"
"Terima kasih pak, saya pamit dahulu" ucap petugas pos kemudian pergi meninggalkan kantor polisi.

Setelah kepergian petugas pos, brigadir polisi tadi berdiskusi mencari pemecahan masalah bersama dengan kedua rekan kerjanya.
"Apakah ada solusi untuk menyelesaikan masalah surat pak Pandir ini?" tanya sang brigadir membuka forum.
"Bagaimana kalau kita berikan surat tersebut, dan kita katakan bahwa Tuhan mengembalikan surat ini" usul rekan brigadir yang berpangkat bripka.
"Wah kalau begitu, nasib kita tidak jauh beda dengan pak pos tadi. Pasti dapat omelan" sanggah sang brigadir.
Kemudian salah satu polisi yang paling senior dengan pangkat aiptu mengajukan saran.
"Begini saja, kita tidak usah berikan kembali surat tersebut kepada pak pandir, kita berikan saja uang dan kita katakan bahwa Tuhan sudah menerima surat pak pandir dan memberikan uang melalui kita" Saran aiptu tersebut. Dan usul tersebut kemudian di aamiin kan oleh kedua rekannya.
"Mari kita iuran masing-masing Rp. 15.000,-. Toh pak pandir hanya butuh Rp 30.000,- dan sisanya bisa beliau gunakan untuk keperluan yang lain" ajak sang aiptu kepada rekan-rekannya.

Setelah iuran terkumpul, ketiga polisi tersebut langsung menuju rumah pak pandir di kampung awan, sampai lokasi ketiga petugas polisi tersebut langsung disambut pak pandir.

"Selamat pagi pak Pandir" Sapa brigadir polisi.
"Selamat pagi pak, maaf ada apa ya pak kok datang kesini" tanya pak pandir.
"Begini pak, kedatangan kami kesini ingin meyampaikan masalah tentang surat bapak kepada Tuhan" jawab sang brigadir.
"Memangnya ada apa dengan surat saya pak?" si Pandir semakin penasaran.
"Ah tidak, surat bapak sudah diterima langsung oleh Tuhan, bahkan Tuhan mengabulkan apa yang menjadi permintaan bapak. Ini ada uang yang diberikan Tuhan melalui kami" Jawab sang brigadir sambil memberikan uang Rp 45.000,- hasil iuran bersama teman-temannya tadi.

Dengan tangan gemetar pak pandir menerima uang dari berigadir polisi tersebut, bibirnya bergetar dan tiba-tiba pak pandir terduduk sambil berkata atau mungkin berdoa.

"Ya Tuhan terima kasih karena Engkau telah mengabulkan permintaan hamba, terima kasih engkau berikan pula uang ini, namun hamba tidak mengerti kenapa kau memberikan uang ini melalui polisi-polisi itu?, dan sekarang hamba hanya terima Rp 45.000,-. (Si Pandir berfikir bahwa Tuhan sebenarnya memberikan Rp 50.000,-. namun oleh sang polisi uang tersebut di korup Rp. 5.000,- dan hanya tersisa Rp 45.000,- saja).

Mendengar kata dan omongan si pandir, ketiga polisi tersebut hanya terdiam bengong disertai sesekali garuk-garuk kepala.


Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa :
  1. Terkadang perbuatan yang diniatkan untuk satu kebaikan pun masih mendapatkan hasil yang negatif / su'udzon berlebih seperti sikap pak pandir terhadap para polisi tersebut.
  2. Sikap kurang bersyukur seperti pak pandir diatas, hanya butuh Rp. 30.000,- dan dia sebenarnya mendapatkan lebih Rp. 15.000,- namun masih saja merasa kurang, bahkan ber su'udzon pula.













Selasa, 14 Januari 2014

Suatu Permulaan

Bismillahirahmanirahim...

Sedikit coretan yang mungkin tiada berarti, namun dalam coretan ini terselip harapan bahwa semoga tulisan-tulisan yang saya posting akan mendatangkan manfaat bagi semua manusia.

Aamiin...